Allah swt. berfirman, “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami (Allah) berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al Israa’: 1)
Setiap 27 Rajab, umat Islam memperingati Isra’ Mi’raj. Hari besar Islam itu merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad saw. Peristiwa itu merupakan rekor perjalanan terpanjang seorang manusia dari permukaan bumi, ke ruang angkasa yang tiada batasnya, hingga Sidratul Muntaha. Waktu tempuhnya pun cuma semalam. Hingga saat ini, rekor itu belum terpecahkan dan tidak akan pernah terpecahkan hingga akhir kehidupan di muka bumi ini. Subhaanallaah!
Peristiwa Isra’ Mi’raj itu tidak boleh dianggap sebelah mata oleh siapa pun di dunia ini. Akal kita tidak akan mampu menerimanya. Rasio manusia mana pun tidak akan mampu menjangkaunya. Otak brilian siapa pun tidak akan mampu menganalisis peristiwa itu. Mengapa? Karena, peristiwa Isra’ Mi’raj itu hanya dapat dilihat dengan kaca mata iman dalam hati. Sahabat Abu Bakar r.a. adalah orang yang pertama kali mengimani pengakuan Nabi Muhammad saw. tentang Isra’ dan Mi’raj tersebut.
Kalau tidak yakin atas kemahabesaran Allah, kita pasti seperti mereka yang meragukan kebenaran peristiwa antariksa yang luar biasa itu. Mana mungkin Muhammad selamat bepergian di ruang angkasa dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya di ruang hampa, yaitu melebihi 30.000 km/detik? Mana mungkin pula beliau sanggup bepergian ke ruang angkasa tanpa pelindung baju tebal berlapis-lapis seperti yang dipakai para astronot? Mana mungkin juga ada kendaraan ruang angkasa yang bisa menembus kecepatan cahaya itu? Mana mungkin pula manusia bisa selamat di ruang angkasa yang hampa udara? Dan masih banyak pertanyaan meragukan kebenaran Isra’ Mi’raj itu.
Semua pertanyaan sinis dan pesimis itu tidak akan terlontar jika iman di dada tertancap kuat. Orang yang beriman pasti akan selalu membenarkan apa yang disampaikan oleh Allah, termasuk peristiwa Isra’ Mi’raj dalam firman di atas. Memang, tiap hal yang baru dan aneh itu sering kontroversial. Terjadi pro kontra di mana-mana. Bahkan, jangan heran jika banyak yang mencemooh dan menganggap gila. Namun, kita sebagai mukmin, harus yakin 100% bahwa sesuatu yang aneh itu bisa saja terjadi jika yang Mahakuasa menghendaki.
Banyak contoh tentang hal itu. Pisau yang tajam secara rasio pasti bisa menancap di perut seseorang. Tapi, mengapa hal itu tidak terjadi pada perut seorang pendekar sakti? Orang yang dibakar pasti terpanggang dan hangus. Tapi, tidak demikian bagi orang yang memiliki ilmu kanuragan. Bahkan, Nabi Ibrahim a.s. memiliki kemukjizatan tersebut ketika dibakar Raja Namrud. Tubuh dan pakaiannya tidak tersentuh sama sekali oleh api yang panas membara. Orang yang duduk bersila bisa terbang perlahan ke atas dengan konsentrasi yoga. Dan sebagainya. Bagaimana akal bisa merasionalisasikan hal-hal ganjil itu? Pasti tidak akan mampu, bukan?
Nah, seperti itulah gambaran kalau kita melihat Isra’ Mi’raj itu hanya dengan kaca mata akal, rasio, nalar, logika, atau pancaindera lainnya. Kita pasti pusing tujuh keliling karena tidak mampu menjelaskannya. Kita harus ingat bahwa kemampuan yang ada dalam tubuh kita ini terbatas sekali. Kalau toh memiliki kemampuan, itu semata-mata karena hidayah dari Allah.
Satu-satunya dari tubuh kita yang bisa menembus kepada ilmu Allah adalah hati nurani. Itu pun dengan syarat hati nuraninya bersih, suci, dan dipenuhi keimanan kepada Allah. Pendek kata, dengan hati nurani yang penuh iman, apa yang tersembunyi di balik suatu peristiwa pasti akan mudah diketahui atas izin Allah. Maka, muncullah istilah dalam masyarakat: wali, kiai khosh, kiai keramat, wong waskita, weruh sakdurunge winarah, dan sebagainya.
Jadi, peristiwa Isra’ Mi’raj itu juga ujian iman kita semua. Kalau hati masih beriman, pasti kita dengan bangga memuji-muji Allah yang telah menjadikan Nabi Muhammad sebagai Sang Astronot Terhebat di jagad sepanjang hayat.
Pengirim : Saiful Asyhad, S.H.

