Google

Jumat, 2008 Juli 11

Sabar dan Tawakal di Saat Gagal

Allah SWT berfirman, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Al Quran surat Ali ‘Imran: 159)

Allah SWT juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (Al Quran surat Ali ‘Imran: 200)

Saat ini, kita jadi prihatin lantaran berita ketidaklulusan dalam UAN (ujian akhir nasional) yang dialami oleh sebagian siswa SLTA dan nanti disusul untuk siswa SLTP. Meski persentasinya kecil, jumlah siswa yang tidak lulus mencapai ribuan. Pasti mereka merasakan kesedihan yang mendalam. Betapa tidak! Mereka telah bersusah payah sekolah selama hampir tiga tahun. Tapi, gara-gara satu pelajaran yang di-UAN-kan di bawah nilai standar kelulusan, maka terpaksa mereka harus mengulang satu tahun lagi alias ngendog.

Protes dari yang tidak lulus dan pihak-pihak pendukungnya gencar dilakukan. Tuntutan untuk mengadakan ujian ulang (her) juga begitu kuat. Bahkan, ada pula yang nekad melakukan hal-hal yang anarkhis. Gonjang-gonjing ketidaklulusan ini pun berhembus sampai ke Pemerintah Pusat. Namun, pihak penguasa itu tetapo tidak mengabulkan tuntutan keras mereka.

Lalu, bagaimana sebaiknya kita menyikapi hal itu secara arif dan islami?
Tidak lulus UAN pada hakikatnya merupakan kegagalan. Itu pasti menyakitkan siapa pun yang mengalaminya. Bukan hanya yang gagal saja, tapi juga orang-orang terdekatnya. Dalam keadaan seperti ini, rasa frustasi dan putus asa pasti menghantui hati. Maka, jangan heran jika mereka yang tidak lulus UAN itu menangis, pingsan, mengamuk, dan bahkan melakukan tindakan anarkhis lainnya. Semua itu merupakan perwujudan rasa ketidakpuasan mereka atas kegagalannya.

Sikap semacam itu, tentu saja, sangat kita sayangkan. Mengapa? Karena, hakikat kegagalan UAN salah satunya akibat kemalasan siswa sendiri. Mereka kurang mempersiapkan diri dengan baik. Mereka menganggap, ikut UAN, berarti lulus. Toh pelajaran yang di-UAN-kan hanya beberapa saja. Itu pun nanti waktu ujian bisa saling kerja sama, saling contek, dan tindak kecurangan lainnya. Sikap siswa yang demikian akhirnya menjadi blunder bagi dirinya sendiri, yakni berupa gagal dalam UAN.

Selain persiapan yang kurang maksimal, juga kurang berserah diri kepada Allah alias tawakal. Mereka anggap dengan belajar saja cukup, tanpa menyandarkan hasil akhir kepada-Nya. Jiwa religius semacam inilah yang kurang dimiliki siswa, baik yang lulus, apalagi yang tidak. Seolah-olah lulus tidaknya UAN itu hanya tergantung usaha mereka sebagai manusia. Padahal, di atas mereka masih ada Dzat yang paling menentukan, yaitu Allah yang Mahakuasa.

Kalau sudah gagal begini bagaimana? Jalan satu-satunya adalah bersabar dan bertawakal sesuai firman Allah di atas. Di dalamnya, mengandung makna melakukan koreksi diri, berusaha keras mengikuti UAN tahun depan atau mengikuti ujian persamaan kejar paket B (untuk SLTP) atau C (untuk SLTA), serta jangan lupa bertawakal kepada Allah. Ini perlu dilakukan agar terhindar dari tindakan negatif yang kontraproduktif dan destruktif. Tidak ada gunanya lagi menyesali kegagalan saat ini karena toh itu akibat dari kemalasan sendiri sebelum menempuh UAN.

Yang penting sekarang adalah menatap masa depan. Hal itu harus diwujudkan dengan belajar yang lebih keras, tekun, dan tanpa kenal lelah. Jangan lupa pula menyerahkan segala ikhtiar kepada Dzat yang Maha Berkehendak. Insya Allah dengan dua bekal, yaitu sabar dan tawakal tadi kegagalan saat ini dapat ditebus dengan menembus UAN tahun depan atau ketika ikut ujian persamaan kejar paket.

Kita harus yakin bahwa Allah pasti memenuhi janji-Nya, yaitu siswa yang sabar dan tawakal di saat gagal UAN sekarang pasti akan beruntung dalam UAN yang akan datang. Insya Allah. Amin.
Pengirim : Saiful Asyhad

Nabi Muhammad Sang Astronot Terhebat

Allah swt. berfirman, “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami (Allah) berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al Israa’: 1)



Setiap 27 Rajab, umat Islam memperingati Isra’ Mi’raj. Hari besar Islam itu merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad saw. Peristiwa itu merupakan rekor perjalanan terpanjang seorang manusia dari permukaan bumi, ke ruang angkasa yang tiada batasnya, hingga Sidratul Muntaha. Waktu tempuhnya pun cuma semalam. Hingga saat ini, rekor itu belum terpecahkan dan tidak akan pernah terpecahkan hingga akhir kehidupan di muka bumi ini. Subhaanallaah!



Peristiwa Isra’ Mi’raj itu tidak boleh dianggap sebelah mata oleh siapa pun di dunia ini. Akal kita tidak akan mampu menerimanya. Rasio manusia mana pun tidak akan mampu menjangkaunya. Otak brilian siapa pun tidak akan mampu menganalisis peristiwa itu. Mengapa? Karena, peristiwa Isra’ Mi’raj itu hanya dapat dilihat dengan kaca mata iman dalam hati. Sahabat Abu Bakar r.a. adalah orang yang pertama kali mengimani pengakuan Nabi Muhammad saw. tentang Isra’ dan Mi’raj tersebut.



Kalau tidak yakin atas kemahabesaran Allah, kita pasti seperti mereka yang meragukan kebenaran peristiwa antariksa yang luar biasa itu. Mana mungkin Muhammad selamat bepergian di ruang angkasa dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya di ruang hampa, yaitu melebihi 30.000 km/detik? Mana mungkin pula beliau sanggup bepergian ke ruang angkasa tanpa pelindung baju tebal berlapis-lapis seperti yang dipakai para astronot? Mana mungkin juga ada kendaraan ruang angkasa yang bisa menembus kecepatan cahaya itu? Mana mungkin pula manusia bisa selamat di ruang angkasa yang hampa udara? Dan masih banyak pertanyaan meragukan kebenaran Isra’ Mi’raj itu.



Semua pertanyaan sinis dan pesimis itu tidak akan terlontar jika iman di dada tertancap kuat. Orang yang beriman pasti akan selalu membenarkan apa yang disampaikan oleh Allah, termasuk peristiwa Isra’ Mi’raj dalam firman di atas. Memang, tiap hal yang baru dan aneh itu sering kontroversial. Terjadi pro kontra di mana-mana. Bahkan, jangan heran jika banyak yang mencemooh dan menganggap gila. Namun, kita sebagai mukmin, harus yakin 100% bahwa sesuatu yang aneh itu bisa saja terjadi jika yang Mahakuasa menghendaki.



Banyak contoh tentang hal itu. Pisau yang tajam secara rasio pasti bisa menancap di perut seseorang. Tapi, mengapa hal itu tidak terjadi pada perut seorang pendekar sakti? Orang yang dibakar pasti terpanggang dan hangus. Tapi, tidak demikian bagi orang yang memiliki ilmu kanuragan. Bahkan, Nabi Ibrahim a.s. memiliki kemukjizatan tersebut ketika dibakar Raja Namrud. Tubuh dan pakaiannya tidak tersentuh sama sekali oleh api yang panas membara. Orang yang duduk bersila bisa terbang perlahan ke atas dengan konsentrasi yoga. Dan sebagainya. Bagaimana akal bisa merasionalisasikan hal-hal ganjil itu? Pasti tidak akan mampu, bukan?



Nah, seperti itulah gambaran kalau kita melihat Isra’ Mi’raj itu hanya dengan kaca mata akal, rasio, nalar, logika, atau pancaindera lainnya. Kita pasti pusing tujuh keliling karena tidak mampu menjelaskannya. Kita harus ingat bahwa kemampuan yang ada dalam tubuh kita ini terbatas sekali. Kalau toh memiliki kemampuan, itu semata-mata karena hidayah dari Allah.



Satu-satunya dari tubuh kita yang bisa menembus kepada ilmu Allah adalah hati nurani. Itu pun dengan syarat hati nuraninya bersih, suci, dan dipenuhi keimanan kepada Allah. Pendek kata, dengan hati nurani yang penuh iman, apa yang tersembunyi di balik suatu peristiwa pasti akan mudah diketahui atas izin Allah. Maka, muncullah istilah dalam masyarakat: wali, kiai khosh, kiai keramat, wong waskita, weruh sakdurunge winarah, dan sebagainya.



Jadi, peristiwa Isra’ Mi’raj itu juga ujian iman kita semua. Kalau hati masih beriman, pasti kita dengan bangga memuji-muji Allah yang telah menjadikan Nabi Muhammad sebagai Sang Astronot Terhebat di jagad sepanjang hayat.


Pengirim : Saiful Asyhad, S.H.

Pahala dan Dosa Saling Gencet di Internet

Walaupun begitu, kita sebagai muslim yang taat harus sadar bahwa kemajuan apa pun yang telah dicapai di bidang teknologi jangan sampai melalaikan diri kita dalam beribadah kepada Allah. Kita harus tetap mempertimbangkan baik buruknya perbuatan yang telah atau akan kita lakukan dengan internet itu. Sebab, teknologi itu sifatnya netral. Bisa digunakan untuk kebaikan. Tapi, dapat pula dipakai untuk kejahatan. Misalnya, ahli energi nuklir sudah mampu mengembangkanpemanfaatan nuklir untuk pembangkit tenaga listrik, energi panas, dan sebagainya. Namun, ada pula yang menggunakan kemajuan pernukliran itu dengan menyalahgunakannya untuk membuat senjata pemusnah massal dalam bentuk senjata nuklir.Demikian juga internet. Kita bisa memanfaatkannya untuk media dakwah secara tertulis maupun dalam bentuk video dan audio. Kita dapat mengirimkan karya tulis ke berbagai media massa di seluruh penjuru dunia dengan layanan e-mail. Gratis pula! Naskah kita pun bisa sampai ke komputer redaksi media massa yang nun jauh di sana hanya dalam hitungan detik. Kita pun bisa menjalin hubungan internasional dengan orang-orang di mancanegara. Kita bisa memperoleh informasi terbaru dari berbagai belahan dunia dari situs-situs yang menyediakan berita. Kita bisa pula menggali ilmu pengetahuan dan penemua di bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), kesehatan,dan lain-lain. Masih banyak lagi nikmat internet yang bisa kita reguk pada setiap saat dan kapan pun kita mau.Itulah anugerah Allah yang Maha Pemurah kepada umatmanusia dalam bentuk internet. Alhamdulillaah!Di sisi lain, internet juga menyimpan bongkahan keburukan. Karena sifatnya yang tanpa batas, internet bisa dijadikan ajang obral informasi mesumdan gambar-gambar porno. Bisa juga untuk menyebarluaskan berbagai modus operandi kejahatan.Misalnya, panduan cara meracik dan membuat bom, membobol bank dan kartu kredit, dan sebagainya. Subhaanallaah!Jadi, pada akhirnya, baik buruknya pemakaian internettergantung pada niat pemakainya. Di internet, tidak adapilih kasih antara yang baik dan yang buruk. Tidak ada seleksi mana yang berpahala dan yang menimbulkan dosa. Tak ada filter mana yang haq (benar) dan yang baathil (buruk). Mau yang baik, ada. Ingin yang buruk, juga tersedia. Baik dan buruk saling mendesakkan satu sama lain. Pendek kata, pahala dan dosa keadaannya saling gencet di internet.Nah, sebagai orang yang menganut agama Islam dan memegang teguh tali Allah, kita harus selalu ingat firman Allah s.w.t. dalam Al Quran, surat Az Zalzalah,ayat 7 dan 8. Di situ, Allah berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscayadia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, dia akan melihat (balasan)nya pula.” Artinya, apa pun yang kitalakukan, pasti kita akan memperoleh balasannya. Maka, kalau kita mempergunakan internet dengan niat baik dan kita laksanakan dengan baik pula, pasti Allah akan menganugerahinya pahala. Sebaliknya, jika menyalahgunakaninternet untuk kemunkaran, maka pasti pula Dia akan menghukum kita dengan beban dosa. Pahala dan dosa kita berinternet akan ditimbang-Nya dengan sangat adil walaupun seberat dzarrah atau atom sekali pun!Biar pun pahala dan dosa saling gencet di internet, Allah harus tetap di hati kita dengan lengket. Kita harustetap mempergunakan parameter yang Allah tetapkan dalam menentukan baik buruknya dalam berinternet. Patokan dasarnyasudah ada, yaitu kita harus berniat untuk berbuat baik dalam berinternet serta melaksanakan niat baikitu selama berselancar dalam internet. Kita memang dituntut lincah berbelok, bahkan menikung tajam, tatkala bersurfing di internet. Itulah gunanya hatikita lengket dengan Allah yang merupakan kendali terbaik dalam menuntun diri kita selama berinternet.Jadi, kesimpulan akhirnya, kalau bisa memetik pahala berlimpah dengan mudah, buat apa bersusah payah menuai dosa dari internet?

Pengirim : Saiful Ashad*